Abide in Christ

Halaman ini adalah bahan saat teduh yang merupakan kumpulan dari kotbah Kaum Puritan.

Puritan adalah sebuah gerakan abad 16-18 (tahun 1550 -1700), yang berjuang untuk me-reformasi dan memurnikan gereja negara Inggris dan untuk membawa hidup saleh yang konsisten dengan pengajaran Alkitab. Kehidupan dan tulisan mereka telah menggerakan dan mengubah orang-orang yang dipakai Allah seperti George Whitfield, Charles Spurgeon, Robert Murray McCheyne, dll.

Martyn Lloyd Jones menyatakan:
Kaum Puritan adalah para jendral tertinggi dari pasukan Tuhan di bumi. Bagi Puritan, hidup adalah hal yang serius, menuntut seluruh waktu dan perhatian. Mereka adalah orang-orang yang telah memandang muka Allah….dan jika engkau sudah melihat muka Allah, tidak ada yang lain yang layak dilihat. Segala sesuatu yang menutupi pandangan itu, harus dihapuskan. Jika sesuatu mengganggu penyerahan diri kepada Tuhan, harus dihancurkan. Karena itulah seorang Puritan adalah tentara. Baginya, kekristenan adalah peperangan, kekristenan bukan cuma pertahanan terhadap penguasa-penguasa, tapi juga tantangan dan serangan akan benteng kekuasaan dunia.

Untuk kekayaan eksegesis, keakuratan teologi dan kesalehan yang membakar hati, kaum Puritan adalah sebuah tambang emas yang berlimpah bagi kehidupan rohani gereja Tuhan masa kini.

Selamat bersaat teduh!


Penderitaan Yang Memuaskan

“Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang” Yesaya 40:6

Di masa kemakmuran kita menyukai berkat2 materi dan berlaku ke-kanak2an terhadap benda2 duniawi ini se-olah2 kebahagiaan dan kenyamanan kita tergantung pada semua itu. Saat kesesakan menimpa, Allah meyakinkan kita tentang kesalahan kita, dan membuat kita melihat kekosongan dunia materi ini. Dunia ini benar2 hanya kekosongan : “ke-sia2an belaka, segala sesuatu adalah sia2” (Pkh. 1:2). Melalui penderitaan, kita dapat melihat dunia tidak seperti yang nampak, tidak seperti yang dijanjikan, dan tidak seperti yang kita harapkan dan yang kita sanjung. Kekayaan apapun yang dihasilkan manusia, apakah teman, kemakmuran, atau kepentingan2 kedagingan, semua itu tidak sanggup melepaskan kita dari kematian dan penghakiman (Ams. 11:4).

Berdasarkan pengalaman, jiwa menemukan ketidak-cocokan dan ketidak-puasan di dalam semua hal2 ini. Tidaklah sebanding jiwa yang tidak kelihatan dengan kenyamanan2 yang kelihatan; jiwa yang kekal dengan kepuasan yang sementara; makhluk rohani dengan kepemilikan materi yang fana. Memuaskan jiwa dengan penghiburan duniawi, dapat disamakan dengan menghirup nafas, untuk meredakan rasa lapar perut yang kosong. Pada saat pencobaan, jiwa berkata, ‘kalian semua penghibur2 tak berfaedah, tabib2 tak berguna’ (Mar. 5:26). Ah, tetapi sesungguhnya ada pemenuhan tak terhingga di dalam Yesus Kristus. Ia segalanya bagi orang berdosa yang rusak dan celaka.

Tidak ada raja yang diurapi dengan kuasa sedemikian; tidak ada nabi dengan hikmat sedemikian; tidak ada imam dengan anugerah sedemikian, “karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas” [Yoh. 3:34], hanya kepada Kristus, sang Anak Allah, dan dari kepenuhan-Nya kita menerima anugerah demi anugerah. Semakin kita mengisi diri dengan dunia, semakin kurang kesukaan kita di dalam Kristus. Inilah dosa dan kebodohan kita. Akan tetapi apabila Allah menebarkan pakaian berkabung ke atas harta benda duniawi, barulah kita menemukan keindahan Kristus dan memperoleh kemampuan untuk menikmati-Nya. Ia secara tak terbatas melampaui semua keindahan dan kemuliaan dunia. Dia, Raja kita yang memerintah; Nabi kita yang mengajar; Imam kita yang menyelamatkan. Betapa mulia! Karuniakanlah Kristus kepadaku, jika tidak binasalah aku!

Diterjemahkan dari buku “Voices From The Past” dengan cuplikan tulisan Thomas Case (1598-1682), Select Works, A Treatise of Afflictions, pp. 83-87