Abide in Christ

Halaman ini adalah bahan saat teduh yang merupakan kumpulan dari kotbah Kaum Puritan.

Puritan adalah sebuah gerakan abad 16-18 (tahun 1550 -1700), yang berjuang untuk me-reformasi dan memurnikan gereja negara Inggris dan untuk membawa hidup saleh yang konsisten dengan pengajaran Alkitab. Kehidupan dan tulisan mereka telah menggerakan dan mengubah orang-orang yang dipakai Allah seperti George Whitfield, Charles Spurgeon, Robert Murray McCheyne, dll.

Martyn Lloyd Jones menyatakan:
Kaum Puritan adalah para jendral tertinggi dari pasukan Tuhan di bumi. Bagi Puritan, hidup adalah hal yang serius, menuntut seluruh waktu dan perhatian. Mereka adalah orang-orang yang telah memandang muka Allah….dan jika engkau sudah melihat muka Allah, tidak ada yang lain yang layak dilihat. Segala sesuatu yang menutupi pandangan itu, harus dihapuskan. Jika sesuatu mengganggu penyerahan diri kepada Tuhan, harus dihancurkan. Karena itulah seorang Puritan adalah tentara. Baginya, kekristenan adalah peperangan, kekristenan bukan cuma pertahanan terhadap penguasa-penguasa, tapi juga tantangan dan serangan akan benteng kekuasaan dunia.

Untuk kekayaan eksegesis, keakuratan teologi dan kesalehan yang membakar hati, kaum Puritan adalah sebuah tambang emas yang berlimpah bagi kehidupan rohani gereja Tuhan masa kini.

Selamat bersaat teduh!


Berdoa Supaya Jangan Jatuh Dalam Pencobaan

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan …” Matius 26:41

Salomo memberitahukan kita tentang orang yang merebahkan dirinya di atas tiang kapal yang sedang berlayar di tengah ombak laut (Ams. 23:34). Ini merupakan gambaran yang tepat tentang manusia yang dikuasai oleh rasa aman semu padahal berada di tepi jurang kehancuran. Jika ada yang pernah berbuat demikian, mereka adalah para murid Yesus ketika berada di taman Getsemani. Tuan mereka hanya sepelemparan batu jauhnya dari mereka, sedang “mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan” (Ibr. 5:7), sementara itu mereka tertidur. Yesus mulai mencicipi cawan berisi kutukan dan murka Allah yaitu dosa-dosa mereka. Segerombolan orang Yahudi bersenjata ada di dekat mereka siap menangkap-Nya dan menghancurkan mereka. Sebelumnya Yesus sudah memberitahukan mereka bahwa inilah malam sebelum Dia dikhianati dan akan mati.

Para murid melihat bahwa Yesus ‘sedih dan gentar’ (Mat. 26:37). Ia telah meminta dengan sangat kepada mereka untuk menemani dan berjaga-jaga bersama-Nya. Ia sedang menghadapi kematian, dan itu adalah demi mereka. Di dalam kondisi demikian, kala Ia sebentar saja meninggalkan mereka, bagaikan manusia yang telah menanggalkan semua rasa kasih kepada-Nya atau orang yang hanya perduli diri sendiri, mereka segera jatuh tertidur. Bahkan orang kudus terbaik jika dibiarkan akan segera terbukti lebih buruk dari kebanyakan manusia, menjadi tidak ada apa-apanya. Semua kekuatan sendiri adalah lemah, dan semua hikmat diri adalah kebodohan. Petrus adalah salah satu dari mereka yang tertidur, dan hal itu terjadi setelah ia baru saja mengutarakan keyakinan diri yang begitu meyakinkan bahwa ia tidak akan meninggalkan Dia sekalipun jika yang lain melakukan hal itu. Juruselamat kita berkata kepada Petrus, “Tidak dapatkah engkau berjaga-jaga bersama Aku untuk satu jam saja?”

Merupakan hal yang mengherankan memikirkan Petrus yang membuat janji begitu tinggi, namun selanjutnya begitu tidak perduli dan lalai memegang janjinya. Kita menemukan, biar bagaimanapun, ada akar pengkhianatan yang sama melekat dan bekerja di dalam hati kita juga. Akar ini setiap hari memberikan buah di dalam kita. Yesus telah berusaha mengarahkan mereka untuk melihat keadaan mereka, kelemahan diri dan kebahayaan mereka. Kehancuran siap mengintai di muka pintu. Para murid perlu bangkit, berjaga-jaga dan berdoa.

Diterjemahkan dari buku “Voices From The Past” dengan cuplikan karya John Owen (1616-1683), ‘Works’, VI:91-92